Hegemoni Media Massa Dalam Masyarakat Kapitalisme Lanjut Menurut Perspektif Mazhab Frankfrut
Oleh : Sriiswanto
(Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY,NIM 20000530075)
Sejarah modernisasi masyarakat menurut Jurgen Habermas, dibagi menjadi tiga tahap yaitu masayrakat tradisional, masyarakat kapitalis liberal, dan masyarakat sekarang yang dinamakan masyarakat kapitalis lanjut. Masyarakat tradisional memiliki kerangka kerja institusioanal yang dominan dengan dukungan legitimasi tradisional dalam bentuk mitos, agama dan metafisika yang mencakup seluruh realitas sosial dan kosmis. Dalam masyarakat kapitalisme-liberal yang merupakan awal modernitas, tindakan rasionalitas bertujuan merasuki kerangka kerja institusional. Sehingga terjadi legitimasi tradisional atau sekularisasi, sebab mitos, agama, dan metafisika kehilangan daya ikatnya pada tingkah laku sosial, dan sebagai gantinya muncul ideologi borjuis yang mengumandangkan kebebasan. Pada tahap ini, ekonomi menjadi dominan atas politik, sehingga Marx merumuskanya dalam bentuk basis ekonomi menentukan superstruktur politik. Masyarakat kapitalis lanjut ditandai dengan berakhirnya depolitisasi massa menuju repolitisasi massa, dengan peran negara dalam memecahkan masalah-masalah teknis yang tergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
Media massa sebagai salah satu hasil dari ilmu pengetahuan dan teknologi,mempunyai peran pokok dalam proses perubahan masyarakat. Media massa telah mampu menghegomoni masyarakat, dan mengarahkanya sesuai dengan ideologi media yaitu budaya konsumtif, hedonisme. Masyarakat tanpa sadar diarahkan dan dibentuk selera dan gaya hidup oleh media, tanpa bisa melawan dominasi media.
Gejala media massa lekat dengan masyarakat massa. Artinya, bahwa media massa dilahirkan oleh masyarakat massa yang aksesnya terhadap ilmu dan teknologi cukup baik. Pada masyarakat seperti inilah lahir produk-produk film, televisi, surat kabar, dan radio yang kemudian membentuk budaya massa. Watak budaya massa kata Dennis (1978) bersifat komersil dan popular dengan produk massal, dan berorientasi modal. Seks, kekerasan, horor, dan peperangan merupakan komoditas utama.
Hal ini sesuai dengan pandangan Mazhab Frankfrut terhadap media massa masyarakat kapitalis-lanjut. Mazhab Frankfrut memandang media sebagai superstruktur yang bisa digunakan sebagai alternatif dalam proses sejarah pertumbuhan ekonomi. Komoditas merupakan aparatur ideologis utama dalam proses tersebut. Bahkan, menurut pandangan ini, seni murni, budaya kritik dan perbedaan pendapat pun bisa dipasarkan untuk meraup keuntungan , meskipun harus dengan mematikan potensi kritik.Sementara sarana utama bagi monopoli modal disokong oleh industi budaya massa yang semakin komersial dan universal.Media massa tampil sebagai basis dari industri budaya dan distribusi komoditas budaya. Bagi para penganut teori kritis , semua pesan media massa tidak hanya sekedar sebagai periklanan umum tapi harus diteliti perananya dalam mendukung praktik – praktik sosial ekonomi dan politik. Sermua pesan yang dipropagandakan media secara potensial mempertahankan distribusi kekuasaan dalam masyarakat.
Marcuse dalam One Dimensional Man mengatakan situasi masyarakat industri maju digambarkan sebagai masyarakat berdimensi tunggal. Dengan hilangnya dimensi kedua, negasi atau perlawanan terhadap sistem, masyarakat hanya mengadaptasi dominasi total teknokratisme. Pandangan Marcuse sesuai dengan realitas peradaban masyarakat sekarang. Masyarakat kapitalisme lanjut yang merupakan kelanjutan dari masyarakat kapitalis liberal, begitu dominan pasca runtuhnya negara komunis di Eropa timur pada awal 90-an. Dengan runtuhnya komunisme maka selesai sudah pertentangan ideologi,dengan kemenangan kapitalis-liberal. Meminjam istilah Francis Fukuyama, massa sekarang adalah massa akhir dari sejarah (The End of History ).
Ketika dominasi kapitalis yang mendasarkan diri pada kebebasan individual, demokrasi menjadi dominan di seluruh dunia, maka kebudayaan yang dihasilkan melalui media massa akan berorientasi atau berporos sesuai dengan ideologi barat. Dan tanpa kita sadari, hasil dari dominasi barat ini akan menghasilkan penyeragaman budaya, yang di impelementasikan melalui media massa.
Pada akhirnya awal dari pandangan Mazhab Frankfrut terhadap media massa masyarakat kapitalis-lanjut adalah kritik terhadap modernitas yang mendasarkan diri pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang awalnya sebagai solusi yang akan membebaskan dan memakmurkan manusia dari mitos, pada akhirnya malah menjadi mitos baru yang membelenggu dan menindas kebebasan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hasil dari rasionalitas. Cara berpikir dengan rasio merupakan produk dari abad pencerahan dengan Max Weber sebagai tokohnya. Hal inilah yang menjadi dasar perdebatan Mazhab Frankfrut. Mereka mencurigai bahwa rasionalitas menyembunyikan kepentingan kekuasaan politis yang menindas masyarakat dengan rasionalitas itu sendiri. Mazhab Frankfrut memahami rasionalitas dalam pengertian weber dalam dua peran yang saling bertentangan. Di satu pihak, rasionalitas itu kritik atas produksi tradisional yang menindas dan ketinggalan zaman. Tetapi di lain pihak rasionalitas itu merupakan apologi untuk membenarkan proses produksi yang baru yang dengan cara lain juga menindas dan dengan demikian rasionalisasi juga dipahami menurut pengertian Freud sebagai dalih untuk menyembunyikan kekuasaan yang menindas.
Namun, entah sebagai dialektika pencerahan ataupun masyarakat berdimensi tunggal, kritik mazhab frankfrut berakhir pada jalan buntu. Kalau emansipasi pada giliranya berubah menjadi dominasi baru, kritik tak kurang dari alat dominasi. Dengan kata lain, sebuah kritik rasional menjadi mustahil, sebab dominasi sudah menjadi total.


1 Comments:
so, can frankurt school break the dillema of modernity ???
Post a Comment
<< Home