Hiperrealitas Tubuh Laki-laki dan Perempuan Ideal dalam Iklan
Oleh RATNA ARIFATI JUWITA (Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, NIM : 20020530064, Peserta mata Kuliah Sosiologi Komunikasi)
Hiperrealitas Tubuh Laki-laki dan Perempuan Ideal dalam Iklan
Perkembangan media yang cukup pesat membuat para pemuja seni bersaing dalam penciptaan suatu hasil karya seni yang dirasa berani untuk ditonjolkan, agar hasil karyanya dapat menjadi pusat perhatian oleh khalayak. Para sineas kita membuat film yang bertemakan kisa percintaan para remaja dengan menonjolkan gemerlap gejolak anak muda jaman sekarang dengan dandanan yang cukup berani berlawanan arus dengan kenyataan yang ada misalnya film “ Virgin “ dimana bercerita bahwa nilai tubuh bisa ditukar dengan nilai uang dan film ini meledak di pasaran. Ternyata dengan adanya banyak flim film yang bertemakan remaja dengan melebihkan-lebihkan realita dengan mengabaikan kode etik yang ada masyarakat telah dibutakan oleh media. Belum lagi kini, dalam banyak iklan di media elektronik ditampilkan bahwa seolah-olah lebih menonjolkan sisi kesexyan tubuh dalam iklan. Bukannya menjual produk nya tapi seakan akan mengambil objek kesexyan tubuh laki-laki dan perempuan.
Disitulah hiperrealitas berlaku yang mana makna memproduksi suatu realitas.
Yang mana hiperrealitas melebih-lebihkan objek yang sebenarnya.
Dalam teori John Baudrillard berkeyakinan ” bahwa tanda bahasa telah semakin terpisah dari ovjek yang mereka wakili dan bahwa media telah mendorong proses ini ke titik dimana tidak ada sesuatu yang nyata “. Setelah saya amati dalam kebyakan iklan, pembuat iklan yang menganut paham Baudrilland yang mana melebih-lebihkan realitas yang sebenarnya. Dalam iklan “ Extrim “ ( obat pelangsing dengan objek model terkenal Nadya Hutagalung ) digambarkan perempuan yang mempunyai tubuh ideal seperti : perempuan yang tinggi, putih, sexy, perut langsing, berambut panjang lurus hitam mengkilat, mempunyai payudara yang besar. Hal ini dirasa terlalu melebih-lebihkan realita yang ada.
Dalam iklan produk susu “ L-Men “ , tubuh laki-laki yang ideal digambarkan dengan : tinggi, besar, dengan dada membidang, perut kotak-kotak, dengan rahang pipi yang nyata, bentuk tubuh yang proporsional.
Dalam kedua sampel iklan diatas dimana mendominasi bahwa baik tubuh laki-laki maupun perempuan yang ideal jauh dari realitas yang seolah olah hanya dilebih-lebihkan oleh media.
Baudrilland mengemukakan perkembangan tanda bahasa melalui berbagai tahapan yaitu : 1) Simbolis. Dimana dalam iklan menonjolkan tubuh perempuan yang sexy dan tubuh laki-laki yang atletis. 2) Kepalsuan. Dimana lambang-lambang dianggap kurang berhubungan langsung dengan benda-benda dalam kehidupan, dimana tubuh yang sexy dan atletis dihubungkan dengan produk yang mereka bawakan dalam iklan seperti cara mereka dilambangkan dalam iklan. 3). Dari masa produksi mekanis dan massif mendominasi kehidupan manusia. Dimana objek tidak tergantung dari penggunaan manusia sebagai pembuat lambang. Seperti dalam iklan “ Hemaviton Action “ ( Versi Agnes Monica, Denada, Irwansyah ), iklan tersebut digambarkan sosok perempuan yang sexy, cantik dan tubuh yang sangat proporsional secara tidak sadar telah mendominasi perilaku konsumtif konsumen dan ini membawa kita ke bentuk kehidupan yang dibesar-besarkan namun dengan melihat realita ini merupakan hasil dominasi yang dibuat oleh media.
Menurut teori Tuchman dalam bukunya Dominic Strinati ( 2003 )”Popular Culture” Pengantar Menuju Teori Budaya Populer, menyebutkan bahwa media melihat perempuan dalam iklan didasarkan pada daya tarik sexual. Saya melihat dalam iklan “ Neo Hormoviton “ oleh model Sarah Azhari. Iklan tersebut lebih menonjolkan sisi sexual model yang sexy, mengairahkan, penuh pesona dan sesuai dengan konsep iklannya yaitu stamina penambah daya tahan tubuh agar tidak cepat loyo. Begitu juga dalam iklan “ Extra Joss “ menonjolkan bahwa laki-laki yang kuat, perkasa, besar, dengan otot yang besar sesuai dengan konsep iklan minuman stamina penambah daya tahan tubuh. Dalam iklan tersebut tubuh ideal perempuan dan laki-laki dilihat dari segi daya tarik sexual seperti yang dikemukakan oleh Tuchman dimana media mendominasi kita sehingga persepsi dibesar-besarkan oleh media.
Commodity culture dimana merupakan hasil simulasi bahwa dengan mengkonsumsi dan menginginkan benda-benda nyata yang mempunyai fungsi yang sebenarnya. Simulasi yang mana ketika makna sudah lepas dari apa yang seharusnya ada. Tubuh ideal perempuan dilihat dari aspek material : putih, cantik, tinggi, perut langsing, rambut panjang lurus hitam mengkilat payudara besar. Kalau dilihat dari aspek mental : perempuan mempunyai daya tarik sexual, tubuh ideal perempuan bukan lagi dipahami sebagai fisik yang menarik tapi berkembang sebagai daya tarik sexual. Begitu juga tubuh ideal laki-laki dilihat dari aspek material : tinggi, dada membidang perut kotak-kotak, rahang pipi yang kuat, otot besat, bentuk tubuh proporsional. Dan berkembang ke aspek mental yakni sebagai daya tarik sexual.
Jadi kini konsumsi telah beralih dari nilai guna ( use value ) menjadi nilai tanda (sign value ).
Dapat disimpulkan hiperrealitas ketika makna memproduksi realitas bahwa objek-objek dipisahkan jauh dari realita kehidupan kita, karena sinyal-sinyal itu merupakan hasil simulasi media yang dibentuk oleh lambang-lambang di media.
Referensi :
Fajar Junaedi S.Sos, M.Si
www..sosiologikomunikasi.blogspot.com
Strinati.Dominic (2003)” Popular Culture “ Pengantar Menuju Teori Budaya Populer, Yogyakarta : Bentang Budaya


1 Comments:
ini menarik..karena yang dibahas biasanya tubuh perempuan, namun dalam tulisan ini yang dibahas juga laki-laki..tapi kok masih banyak yang tentang perempuan yaa..
Post a Comment
<< Home