LINGKARAN PATRIARKI DALAM INFOTAINMENT
Oleh : ANNISA NOOR FADHILAH (Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, Peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi NIM 20020530079)
Infotaiment yang gemerlap semakin marak di televisi. Hampir semua stasiun televisi memiliki program acara tersebut. Sebuah Program acara yang bersegmen kaum hawa ini, seakan tak pernah kehabisan berita, selalu saja ada yang berita yang disajikan walaupun kadang membuat pemirsanya merasa bosan. Berita-berita tentang public figure tersebut telah menjadi makanan sehari-hari bagi sebagian besar kaum perempuan, yang memang menjadi target audience dari program tersebut.
Apakah tayangan-tayangan infotainment tersebut fungsinya hanya menjadi hiburan? Ya, memang, infotainment memberi hiburan pada pemirsanya namun di balik hal itu sebenarnya infotainment menanamkan nilai-nilai tertentu yang secara tidak sadar telah masuk di benak para audiencenya.
Ada sebuah ideologi yang terkandung di balik tayangan infotainment yang menghibur itu, sebuah ideologi yang tertanam tanpa kekerasan atau menurut Althusser berjalan secara ISA (Ideological State Aparatus) bukan dengan jalan RSA (Repressive State Aparatus) yang menggunakan kekerasan untuk menanamkan ideologi. Dan media massa merupakan bagian dari ISA. Ini berarti infotainment yang ditayangkan oleh televisi menanamkan nilai-nilai tersebut tanpa disadari oleh pemirsanya.
Jika dicermati dan ditelaah dengan seksama maka kita akan bisa membaca nilai apa yang ditanamkan di dalam acara infotainment tersebut. Sebuah nilai yang telah lama dianut oleh masyarakat kita karena warisan budaya timur, sebuah nilai yang tanpa disadari telah tertanam di benak masyarakat kita. Nilai tersebut adalah patriarki.
Sebelum menelaah bagaimana patriarki bisa ada di balik infotainment, saya akan membahas pengertian patriarki itu sendiri. Patriarki kini secara umum, digunakan untuk menyebut “ kekuasaan laki-laki ” khususnya hubungan kekuasaan antara laki-laki terhadap perempuan yang di dalamnya berlangsung dominasi laki-laki atas perempuan yangh direalisasikan melalui bermacam- macam media dan cara (Bhasin,1966). Sedangkan kaum feminis radikal melihat patriarki sebagai suatu kekuatan politik, sosial, dan sejarah yang otonom dan universal.
Di tengah masyarakat yang di dalam benaknya seolah telah terpatri sebuah gagasan yang mengatakan bahwa laki-laki mendominasi perempuan, program-program infotainment tersebut seolah menegaskan akan hal tersebut. Bukan hanya satu-dua program acara seperti itu, tetapi setidaknya ada 125 program tayangan infotainment yang ditayangkan stasiun televisi setiap minggunya (Bernas Jogja, 16 Desember 2004). RCTI dengan Cek dan Riceknya, SCTV dengan Hot Shot dan Was-Wasnya, TRANS TV dengan Kroscek dan Insertnya, INDOSIAR dengan Kiss dan Sensornya, GLOBAL TV dengan Obsesinya dan masih banyak nama-nama yang lainnya, yang seakan tidak pernah lelah menanamkan ideologi patriarki di benak masyarakat.
Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana ideologi patriarki bisa ada di balik acara infotainment? Saya akan mengambil satu contoh infotainment yang ditayangkan di RCTI yaitu Cek dan Ricek. Orang yang bertanggung jawab dan memegang kekuasaan terhadap acara tersebuat adalah bapak H. Ilham Bintang. Sebagai penaggung jawab acara, beliau menggunakan perempuan sebagai pembawa acara dan acara tersebut memang untuk wanita. Dari sini mulai terlihat bahwa perempuan direpresentasikan sebagai biang gosip.
Oleh media, kaum perempuan direpresentasikan dalam bentuk stereotip-stereotip yang didasarkan pada daya tarik seksual maupun domestik. Pembawa acara infotainment yang seorang perempuan dianggap memiliki daya tarik dan daya jual yang lebih apabila membawakan acara infotainment. Laki-laki menjadi produser atau penaggung jawab sedangkan perempuan ‘ hanya ‘ menjadi pembawa acara. Tanggung jawab laki-laki sebagai produser dianggap lebih besar dan lebih berat apabila dibandingkan dengan perempuan yang hanya sebagai pembawa acara yang tanggung jawabnya lebih ringan karena tugasnya hanya membawakan acara yang teksnya telah ditulis dan dipersiapkan sebalumnya. Atau dapat disimpulkan bahwa peranan laki-laki lebih penting dari pada perempuan. Menurut De Beauvoir, laki-laki adalah sang absolut dan perempuan adalah yang lain atau the other (1982).
Seperti telah disebutkan di atas, target audience dari infotainment adalah perempuan. Padahal ada sebagian infotainment yang ditayangkan pada jam-jam kerja antara jam 9 pagi sampai jam 12 siang. Seperti Hot Gossip yang ditayangkan oleh Lativi pada jam 9.30 pagi atau Hot Shot yang ditayangkan oleh SCTV pada jam 11. Dengan menayang-kan acara infotainment pada jam-jam tersebut seolah digambarkan bahwa sebagian besar perempuan berada di rumah pada jam-jam tersebut, yang berarti bahwa para perempuan adalah bekerja di rumah atau di sektor domestik. Dominic Strinati menulis kembali pendapat Van Zoonen dalam bukunya Popular Culture : Pengantar Menuju Teori Budaya Populer (2003;207), media massa berfungsi menegaskan peranan istri, ibu, ibu rumah tangga dan sebagainya, merupakan takdir perempuan dalam sebuah masyarakat patriarki. Dengan klata lain, perempuan adalah yang mengurus rumah tangga, sedangakan laki-laki yang mencari nafkah dengan bekerja di sektor publik. Infotainment semakin menegaskan ideologi patriarki dalam masyarakat.
Walaupun tidak semua perempuan bekerja di sektor domestik, ada juga yang bekerja di sektor publik, masih saja berlaku stereotip bahwa perempuan lebih layak bekerja di sektor domestik. Seandainya pun perempuan bekerja di sektor publik, pekerjaannya dianggap pekerjaan kedua, tidak seperti laki-laki yang selalu menjadi yang pertama. Jika laki-laki menjadi dokter maka perempuan menjadi perawat, laki-laki bekerja di perusahaan, perempuan bekerja di butik(Tuchman).
Kaum feminisme banyak membuat tulisan dan juga kritik terhadap dominasi laki-laki, tetapi masih sangat sulit untuk mendapat tempat yang sejajar dengan kaum pria. Apalagi bila mengingat bahwa budaya timur masih melekat dalam masyarakat kita. Rosemarie Putnam Tong mengatakan “ cara bagi perempuan untuk menghancurakan kekuasaan laki-laki adalah dengan pertama-tama menyadari bahwa perempuan tidak ditakdirkan untuk menjadi pasif, seperti juga laki-laki tidak ditakdirkan untuk menjadi aktif, dan kemudian mengembangkan kombinasi apapun dari sifat-sifat feminis dan maskulin yang paling baik merefleksikan kepribadian unik mereka masiong-masing ”.
Referensi :
Fajar Junaedi, www.sosiologikomunikasi.blogspot.com
Fajar Junaedi, www.fajarjun.blogspot.com
Hidayat, Rachmad (2004), Ilmu Yang Seksis : Feminisme dan perlawanan Terhadap Teori Sosial Maskulin, Yogyakarta : Jendela
Strinati, Dominic (2003), popular Culture : Pengantar Menuju Teori Budaya Populer, Yogyakarta : Bentang Budaya
Tong, Rosemarie Putnam, Feminist Thought : Pengantar Paling Komprehensif Kepada Arus Utama Pemikiran Feminis, Yogyakarta : Jalasutra

