sosiologi komunikasi kelas B

My Photo
Name:
Location: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jogjakarta, Indonesia

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dosen tamu di program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Universitas Islam Indonesia. Penulis lepas di media massa.

Tuesday, April 19, 2005

LINGKARAN PATRIARKI DALAM INFOTAINMENT

Oleh : ANNISA NOOR FADHILAH (Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, Peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi NIM 20020530079)




Infotaiment yang gemerlap semakin marak di televisi. Hampir semua stasiun televisi memiliki program acara tersebut. Sebuah Program acara yang bersegmen kaum hawa ini, seakan tak pernah kehabisan berita, selalu saja ada yang berita yang disajikan walaupun kadang membuat pemirsanya merasa bosan. Berita-berita tentang public figure tersebut telah menjadi makanan sehari-hari bagi sebagian besar kaum perempuan, yang memang menjadi target audience dari program tersebut.
Apakah tayangan-tayangan infotainment tersebut fungsinya hanya menjadi hiburan? Ya, memang, infotainment memberi hiburan pada pemirsanya namun di balik hal itu sebenarnya infotainment menanamkan nilai-nilai tertentu yang secara tidak sadar telah masuk di benak para audiencenya.
Ada sebuah ideologi yang terkandung di balik tayangan infotainment yang menghibur itu, sebuah ideologi yang tertanam tanpa kekerasan atau menurut Althusser berjalan secara ISA (Ideological State Aparatus) bukan dengan jalan RSA (Repressive State Aparatus) yang menggunakan kekerasan untuk menanamkan ideologi. Dan media massa merupakan bagian dari ISA. Ini berarti infotainment yang ditayangkan oleh televisi menanamkan nilai-nilai tersebut tanpa disadari oleh pemirsanya.
Jika dicermati dan ditelaah dengan seksama maka kita akan bisa membaca nilai apa yang ditanamkan di dalam acara infotainment tersebut. Sebuah nilai yang telah lama dianut oleh masyarakat kita karena warisan budaya timur, sebuah nilai yang tanpa disadari telah tertanam di benak masyarakat kita. Nilai tersebut adalah patriarki.
Sebelum menelaah bagaimana patriarki bisa ada di balik infotainment, saya akan membahas pengertian patriarki itu sendiri. Patriarki kini secara umum, digunakan untuk menyebut “ kekuasaan laki-laki ” khususnya hubungan kekuasaan antara laki-laki terhadap perempuan yang di dalamnya berlangsung dominasi laki-laki atas perempuan yangh direalisasikan melalui bermacam- macam media dan cara (Bhasin,1966). Sedangkan kaum feminis radikal melihat patriarki sebagai suatu kekuatan politik, sosial, dan sejarah yang otonom dan universal.
Di tengah masyarakat yang di dalam benaknya seolah telah terpatri sebuah gagasan yang mengatakan bahwa laki-laki mendominasi perempuan, program-program infotainment tersebut seolah menegaskan akan hal tersebut. Bukan hanya satu-dua program acara seperti itu, tetapi setidaknya ada 125 program tayangan infotainment yang ditayangkan stasiun televisi setiap minggunya (Bernas Jogja, 16 Desember 2004). RCTI dengan Cek dan Riceknya, SCTV dengan Hot Shot dan Was-Wasnya, TRANS TV dengan Kroscek dan Insertnya, INDOSIAR dengan Kiss dan Sensornya, GLOBAL TV dengan Obsesinya dan masih banyak nama-nama yang lainnya, yang seakan tidak pernah lelah menanamkan ideologi patriarki di benak masyarakat.
Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana ideologi patriarki bisa ada di balik acara infotainment? Saya akan mengambil satu contoh infotainment yang ditayangkan di RCTI yaitu Cek dan Ricek. Orang yang bertanggung jawab dan memegang kekuasaan terhadap acara tersebuat adalah bapak H. Ilham Bintang. Sebagai penaggung jawab acara, beliau menggunakan perempuan sebagai pembawa acara dan acara tersebut memang untuk wanita. Dari sini mulai terlihat bahwa perempuan direpresentasikan sebagai biang gosip.
Oleh media, kaum perempuan direpresentasikan dalam bentuk stereotip-stereotip yang didasarkan pada daya tarik seksual maupun domestik. Pembawa acara infotainment yang seorang perempuan dianggap memiliki daya tarik dan daya jual yang lebih apabila membawakan acara infotainment. Laki-laki menjadi produser atau penaggung jawab sedangkan perempuan ‘ hanya ‘ menjadi pembawa acara. Tanggung jawab laki-laki sebagai produser dianggap lebih besar dan lebih berat apabila dibandingkan dengan perempuan yang hanya sebagai pembawa acara yang tanggung jawabnya lebih ringan karena tugasnya hanya membawakan acara yang teksnya telah ditulis dan dipersiapkan sebalumnya. Atau dapat disimpulkan bahwa peranan laki-laki lebih penting dari pada perempuan. Menurut De Beauvoir, laki-laki adalah sang absolut dan perempuan adalah yang lain atau the other (1982).
Seperti telah disebutkan di atas, target audience dari infotainment adalah perempuan. Padahal ada sebagian infotainment yang ditayangkan pada jam-jam kerja antara jam 9 pagi sampai jam 12 siang. Seperti Hot Gossip yang ditayangkan oleh Lativi pada jam 9.30 pagi atau Hot Shot yang ditayangkan oleh SCTV pada jam 11. Dengan menayang-kan acara infotainment pada jam-jam tersebut seolah digambarkan bahwa sebagian besar perempuan berada di rumah pada jam-jam tersebut, yang berarti bahwa para perempuan adalah bekerja di rumah atau di sektor domestik. Dominic Strinati menulis kembali pendapat Van Zoonen dalam bukunya Popular Culture : Pengantar Menuju Teori Budaya Populer (2003;207), media massa berfungsi menegaskan peranan istri, ibu, ibu rumah tangga dan sebagainya, merupakan takdir perempuan dalam sebuah masyarakat patriarki. Dengan klata lain, perempuan adalah yang mengurus rumah tangga, sedangakan laki-laki yang mencari nafkah dengan bekerja di sektor publik. Infotainment semakin menegaskan ideologi patriarki dalam masyarakat.
Walaupun tidak semua perempuan bekerja di sektor domestik, ada juga yang bekerja di sektor publik, masih saja berlaku stereotip bahwa perempuan lebih layak bekerja di sektor domestik. Seandainya pun perempuan bekerja di sektor publik, pekerjaannya dianggap pekerjaan kedua, tidak seperti laki-laki yang selalu menjadi yang pertama. Jika laki-laki menjadi dokter maka perempuan menjadi perawat, laki-laki bekerja di perusahaan, perempuan bekerja di butik(Tuchman).
Kaum feminisme banyak membuat tulisan dan juga kritik terhadap dominasi laki-laki, tetapi masih sangat sulit untuk mendapat tempat yang sejajar dengan kaum pria. Apalagi bila mengingat bahwa budaya timur masih melekat dalam masyarakat kita. Rosemarie Putnam Tong mengatakan “ cara bagi perempuan untuk menghancurakan kekuasaan laki-laki adalah dengan pertama-tama menyadari bahwa perempuan tidak ditakdirkan untuk menjadi pasif, seperti juga laki-laki tidak ditakdirkan untuk menjadi aktif, dan kemudian mengembangkan kombinasi apapun dari sifat-sifat feminis dan maskulin yang paling baik merefleksikan kepribadian unik mereka masiong-masing ”.


Referensi :
 Fajar Junaedi, www.sosiologikomunikasi.blogspot.com
 Fajar Junaedi, www.fajarjun.blogspot.com
 Hidayat, Rachmad (2004), Ilmu Yang Seksis : Feminisme dan perlawanan Terhadap Teori Sosial Maskulin, Yogyakarta : Jendela
 Strinati, Dominic (2003), popular Culture : Pengantar Menuju Teori Budaya Populer, Yogyakarta : Bentang Budaya
 Tong, Rosemarie Putnam, Feminist Thought : Pengantar Paling Komprehensif Kepada Arus Utama Pemikiran Feminis, Yogyakarta : Jalasutra

Hiperrealitas Tubuh Laki-laki dan Perempuan Ideal dalam Iklan

Oleh RATNA ARIFATI JUWITA (Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, NIM : 20020530064, Peserta mata Kuliah Sosiologi Komunikasi)

Hiperrealitas Tubuh Laki-laki dan Perempuan Ideal dalam Iklan
Perkembangan media yang cukup pesat membuat para pemuja seni bersaing dalam penciptaan suatu hasil karya seni yang dirasa berani untuk ditonjolkan, agar hasil karyanya dapat menjadi pusat perhatian oleh khalayak. Para sineas kita membuat film yang bertemakan kisa percintaan para remaja dengan menonjolkan gemerlap gejolak anak muda jaman sekarang dengan dandanan yang cukup berani berlawanan arus dengan kenyataan yang ada misalnya film “ Virgin “ dimana bercerita bahwa nilai tubuh bisa ditukar dengan nilai uang dan film ini meledak di pasaran. Ternyata dengan adanya banyak flim film yang bertemakan remaja dengan melebihkan-lebihkan realita dengan mengabaikan kode etik yang ada masyarakat telah dibutakan oleh media. Belum lagi kini, dalam banyak iklan di media elektronik ditampilkan bahwa seolah-olah lebih menonjolkan sisi kesexyan tubuh dalam iklan. Bukannya menjual produk nya tapi seakan akan mengambil objek kesexyan tubuh laki-laki dan perempuan.
Disitulah hiperrealitas berlaku yang mana makna memproduksi suatu realitas.
Yang mana hiperrealitas melebih-lebihkan objek yang sebenarnya.
Dalam teori John Baudrillard berkeyakinan ” bahwa tanda bahasa telah semakin terpisah dari ovjek yang mereka wakili dan bahwa media telah mendorong proses ini ke titik dimana tidak ada sesuatu yang nyata “. Setelah saya amati dalam kebyakan iklan, pembuat iklan yang menganut paham Baudrilland yang mana melebih-lebihkan realitas yang sebenarnya. Dalam iklan “ Extrim “ ( obat pelangsing dengan objek model terkenal Nadya Hutagalung ) digambarkan perempuan yang mempunyai tubuh ideal seperti : perempuan yang tinggi, putih, sexy, perut langsing, berambut panjang lurus hitam mengkilat, mempunyai payudara yang besar. Hal ini dirasa terlalu melebih-lebihkan realita yang ada.
Dalam iklan produk susu “ L-Men “ , tubuh laki-laki yang ideal digambarkan dengan : tinggi, besar, dengan dada membidang, perut kotak-kotak, dengan rahang pipi yang nyata, bentuk tubuh yang proporsional.
Dalam kedua sampel iklan diatas dimana mendominasi bahwa baik tubuh laki-laki maupun perempuan yang ideal jauh dari realitas yang seolah olah hanya dilebih-lebihkan oleh media.
Baudrilland mengemukakan perkembangan tanda bahasa melalui berbagai tahapan yaitu : 1) Simbolis. Dimana dalam iklan menonjolkan tubuh perempuan yang sexy dan tubuh laki-laki yang atletis. 2) Kepalsuan. Dimana lambang-lambang dianggap kurang berhubungan langsung dengan benda-benda dalam kehidupan, dimana tubuh yang sexy dan atletis dihubungkan dengan produk yang mereka bawakan dalam iklan seperti cara mereka dilambangkan dalam iklan. 3). Dari masa produksi mekanis dan massif mendominasi kehidupan manusia. Dimana objek tidak tergantung dari penggunaan manusia sebagai pembuat lambang. Seperti dalam iklan “ Hemaviton Action “ ( Versi Agnes Monica, Denada, Irwansyah ), iklan tersebut digambarkan sosok perempuan yang sexy, cantik dan tubuh yang sangat proporsional secara tidak sadar telah mendominasi perilaku konsumtif konsumen dan ini membawa kita ke bentuk kehidupan yang dibesar-besarkan namun dengan melihat realita ini merupakan hasil dominasi yang dibuat oleh media.
Menurut teori Tuchman dalam bukunya Dominic Strinati ( 2003 )”Popular Culture” Pengantar Menuju Teori Budaya Populer, menyebutkan bahwa media melihat perempuan dalam iklan didasarkan pada daya tarik sexual. Saya melihat dalam iklan “ Neo Hormoviton “ oleh model Sarah Azhari. Iklan tersebut lebih menonjolkan sisi sexual model yang sexy, mengairahkan, penuh pesona dan sesuai dengan konsep iklannya yaitu stamina penambah daya tahan tubuh agar tidak cepat loyo. Begitu juga dalam iklan “ Extra Joss “ menonjolkan bahwa laki-laki yang kuat, perkasa, besar, dengan otot yang besar sesuai dengan konsep iklan minuman stamina penambah daya tahan tubuh. Dalam iklan tersebut tubuh ideal perempuan dan laki-laki dilihat dari segi daya tarik sexual seperti yang dikemukakan oleh Tuchman dimana media mendominasi kita sehingga persepsi dibesar-besarkan oleh media.
Commodity culture dimana merupakan hasil simulasi bahwa dengan mengkonsumsi dan menginginkan benda-benda nyata yang mempunyai fungsi yang sebenarnya. Simulasi yang mana ketika makna sudah lepas dari apa yang seharusnya ada. Tubuh ideal perempuan dilihat dari aspek material : putih, cantik, tinggi, perut langsing, rambut panjang lurus hitam mengkilat payudara besar. Kalau dilihat dari aspek mental : perempuan mempunyai daya tarik sexual, tubuh ideal perempuan bukan lagi dipahami sebagai fisik yang menarik tapi berkembang sebagai daya tarik sexual. Begitu juga tubuh ideal laki-laki dilihat dari aspek material : tinggi, dada membidang perut kotak-kotak, rahang pipi yang kuat, otot besat, bentuk tubuh proporsional. Dan berkembang ke aspek mental yakni sebagai daya tarik sexual.
Jadi kini konsumsi telah beralih dari nilai guna ( use value ) menjadi nilai tanda (sign value ).
Dapat disimpulkan hiperrealitas ketika makna memproduksi realitas bahwa objek-objek dipisahkan jauh dari realita kehidupan kita, karena sinyal-sinyal itu merupakan hasil simulasi media yang dibentuk oleh lambang-lambang di media.

Referensi :
 Fajar Junaedi S.Sos, M.Si
www..sosiologikomunikasi.blogspot.com
 Strinati.Dominic (2003)” Popular Culture “ Pengantar Menuju Teori Budaya Populer, Yogyakarta : Bentang Budaya

Hegemoni Media Massa Dalam Masyarakat Kapitalisme Lanjut Menurut Perspektif Mazhab Frankfrut

Oleh : Sriiswanto
(Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY,NIM 20000530075)





Sejarah modernisasi masyarakat menurut Jurgen Habermas, dibagi menjadi tiga tahap yaitu masayrakat tradisional, masyarakat kapitalis liberal, dan masyarakat sekarang yang dinamakan masyarakat kapitalis lanjut. Masyarakat tradisional memiliki kerangka kerja institusioanal yang dominan dengan dukungan legitimasi tradisional dalam bentuk mitos, agama dan metafisika yang mencakup seluruh realitas sosial dan kosmis. Dalam masyarakat kapitalisme-liberal yang merupakan awal modernitas, tindakan rasionalitas bertujuan merasuki kerangka kerja institusional. Sehingga terjadi legitimasi tradisional atau sekularisasi, sebab mitos, agama, dan metafisika kehilangan daya ikatnya pada tingkah laku sosial, dan sebagai gantinya muncul ideologi borjuis yang mengumandangkan kebebasan. Pada tahap ini, ekonomi menjadi dominan atas politik, sehingga Marx merumuskanya dalam bentuk basis ekonomi menentukan superstruktur politik. Masyarakat kapitalis lanjut ditandai dengan berakhirnya depolitisasi massa menuju repolitisasi massa, dengan peran negara dalam memecahkan masalah-masalah teknis yang tergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
Media massa sebagai salah satu hasil dari ilmu pengetahuan dan teknologi,mempunyai peran pokok dalam proses perubahan masyarakat. Media massa telah mampu menghegomoni masyarakat, dan mengarahkanya sesuai dengan ideologi media yaitu budaya konsumtif, hedonisme. Masyarakat tanpa sadar diarahkan dan dibentuk selera dan gaya hidup oleh media, tanpa bisa melawan dominasi media.
Gejala media massa lekat dengan masyarakat massa. Artinya, bahwa media massa dilahirkan oleh masyarakat massa yang aksesnya terhadap ilmu dan teknologi cukup baik. Pada masyarakat seperti inilah lahir produk-produk film, televisi, surat kabar, dan radio yang kemudian membentuk budaya massa. Watak budaya massa kata Dennis (1978) bersifat komersil dan popular dengan produk massal, dan berorientasi modal. Seks, kekerasan, horor, dan peperangan merupakan komoditas utama.
Hal ini sesuai dengan pandangan Mazhab Frankfrut terhadap media massa masyarakat kapitalis-lanjut. Mazhab Frankfrut memandang media sebagai superstruktur yang bisa digunakan sebagai alternatif dalam proses sejarah pertumbuhan ekonomi. Komoditas merupakan aparatur ideologis utama dalam proses tersebut. Bahkan, menurut pandangan ini, seni murni, budaya kritik dan perbedaan pendapat pun bisa dipasarkan untuk meraup keuntungan , meskipun harus dengan mematikan potensi kritik.Sementara sarana utama bagi monopoli modal disokong oleh industi budaya massa yang semakin komersial dan universal.Media massa tampil sebagai basis dari industri budaya dan distribusi komoditas budaya. Bagi para penganut teori kritis , semua pesan media massa tidak hanya sekedar sebagai periklanan umum tapi harus diteliti perananya dalam mendukung praktik – praktik sosial ekonomi dan politik. Sermua pesan yang dipropagandakan media secara potensial mempertahankan distribusi kekuasaan dalam masyarakat.
Marcuse dalam One Dimensional Man mengatakan situasi masyarakat industri maju digambarkan sebagai masyarakat berdimensi tunggal. Dengan hilangnya dimensi kedua, negasi atau perlawanan terhadap sistem, masyarakat hanya mengadaptasi dominasi total teknokratisme. Pandangan Marcuse sesuai dengan realitas peradaban masyarakat sekarang. Masyarakat kapitalisme lanjut yang merupakan kelanjutan dari masyarakat kapitalis liberal, begitu dominan pasca runtuhnya negara komunis di Eropa timur pada awal 90-an. Dengan runtuhnya komunisme maka selesai sudah pertentangan ideologi,dengan kemenangan kapitalis-liberal. Meminjam istilah Francis Fukuyama, massa sekarang adalah massa akhir dari sejarah (The End of History ).
Ketika dominasi kapitalis yang mendasarkan diri pada kebebasan individual, demokrasi menjadi dominan di seluruh dunia, maka kebudayaan yang dihasilkan melalui media massa akan berorientasi atau berporos sesuai dengan ideologi barat. Dan tanpa kita sadari, hasil dari dominasi barat ini akan menghasilkan penyeragaman budaya, yang di impelementasikan melalui media massa.
Pada akhirnya awal dari pandangan Mazhab Frankfrut terhadap media massa masyarakat kapitalis-lanjut adalah kritik terhadap modernitas yang mendasarkan diri pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang awalnya sebagai solusi yang akan membebaskan dan memakmurkan manusia dari mitos, pada akhirnya malah menjadi mitos baru yang membelenggu dan menindas kebebasan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hasil dari rasionalitas. Cara berpikir dengan rasio merupakan produk dari abad pencerahan dengan Max Weber sebagai tokohnya. Hal inilah yang menjadi dasar perdebatan Mazhab Frankfrut. Mereka mencurigai bahwa rasionalitas menyembunyikan kepentingan kekuasaan politis yang menindas masyarakat dengan rasionalitas itu sendiri. Mazhab Frankfrut memahami rasionalitas dalam pengertian weber dalam dua peran yang saling bertentangan. Di satu pihak, rasionalitas itu kritik atas produksi tradisional yang menindas dan ketinggalan zaman. Tetapi di lain pihak rasionalitas itu merupakan apologi untuk membenarkan proses produksi yang baru yang dengan cara lain juga menindas dan dengan demikian rasionalisasi juga dipahami menurut pengertian Freud sebagai dalih untuk menyembunyikan kekuasaan yang menindas.
Namun, entah sebagai dialektika pencerahan ataupun masyarakat berdimensi tunggal, kritik mazhab frankfrut berakhir pada jalan buntu. Kalau emansipasi pada giliranya berubah menjadi dominasi baru, kritik tak kurang dari alat dominasi. Dengan kata lain, sebuah kritik rasional menjadi mustahil, sebab dominasi sudah menjadi total.

Friday, April 08, 2005

Sosiologi Komunikasi Kelas B

Paper di atas adalah paper terbaik di kelas "B" mata kuliah Sosiologi Komunikasi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2004/2005