KETIKA PERUT LELAKI TERKOTAK-KOTAK
Oleh : Haryono Gatot Subroto (mahasiswa ilmu Komunikasi UMY, NIM 20020530234 / Kelas B, e-mail haryono_subroto@yahoo.com)
Kita tentu cukup akrab dengan iklan televisi ini : beberapa wanita yang sedang berjalan kaki menolehkan kepala dengan ekspresi yang terkagum-kagum. Seakan-akan perempuan-perempuan tersebut terpikat dengan laki-laki gendut berpakaian motif bunga. Namun pada akhirnya kita semua tahu bahwa para wanita tersebut terkagum-kagum bukan kepada laki-laki gendut berpakaian motif bunga tapi tergila-gila dengan seorang laki-laki yang bertelanjang dada di belakang pria gendut. Lelaki bertelanjang dada tersebut nampak bentuk tubuhnya yang kekar, perut berkotak-kotak. Dibagian akhir iklan pembawa acara menyampaikan produk yang mampu membuat badan pria bisa seperti itu.
Atau bisa juga dengan iklan yang satu ini : 3 orang wanita sedang makan bersama. Dua perempuan memilih-milih makanan yang akan disantap yang telah terhidang didepannya. Sedangkan perempuan yang satu lagi begitu lahap memakan menu yang tersedia di atas piring yang membuat 2 temannya terheran-heran. Perempuan yang satu ini mengejek 2 temannya yang sedang mengikuti program diet. Baginya semua bisa dimakan asal secara rutin mengkonsumsi produk minuman tertentu. Di bagian akhir iklan ditayangkan wanita yang mengkonsumsi minuman tersebut begitu lincah berjalan di sela-sela kursi restoran yang sempit sedangkan 2 temannya kerepotan.
Iklan tersebut mengajarkan kepada kita tentang seperti apa atau yang bagaimanakah tubuh yang ideal bagi laki-laki dan perempuan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Seperti kita tahu bahwa realitas dalam iklan adalah realitas rekaan, realitas semu atau yang lebih dikenal dengan second reality. Namun pada banyak orang, kenyataan kedua inilah yang lebih dipercayai. Sehingga berbagai macam usaha dilakukan untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal seperti yang tergambar dalam iklan.
Dewasa ini, makna melalui tanda bahasa telah mampu hadir ditengah-tengah kehidupan manusia dengan tanpa disadari oleh manusia itu sendiri. Tanda yang tadinya merepresentasikan makna, sekarang telah berbalik posisi sebagai sesuatu yang memproduksi realitas. Dalam hal ini tanda tidak lagi merepresentasikan sesuatu.
Hiperrealitas ini diawali dengan matinya petanda dan runtuhnya realitas itu sendiri yang digantikan oleh dunia nostalgia dan fantasi, dimana hiperrealitas merupakan efek, keadaan, pengalaman kebendaan dan atau ruang yang dihasilkan dari proses simulasi. Hiperrealitas adalah duplikat dari realitas yang didekodifikasikan. (Yasraf Amir Piliang, 2003:151)
Ada 2 kategori dalam hiperrealitas :
1. Museum lilin (wax museum) atau tiruan karya seni artinya adalah realitas yang dihasilkan merupakan reproduksi dari realitas-realitas sejarah seperti Beethoven, Marilyn Monroe, JFK dan sebagainya.
2. Kota hantu (ghost town) yang artinya bahwa kota hantu adalah reproduksi fantasi, mimpi, ilusi, science fiction seperti Disney Land, Batman, Superman, Cinderella dan sebagainya. (Yasraf Amir Piliang, 2003:151)
Bentuk tubuh ideal bagi laki-laki dan perempuan seperti yang tergambar dalam iklan merupakan salah satu contoh dari hiperrealitas kota hantu karena bentuk tubuh tersebut hanya merupakan khayalan dan fantasi dari pembuat iklan. Pembuat iklan meyakinkan kepada publik bahwa bentuk tubuh ideal adalah seperti dalam iklan dan menjadi acuan untuk mendapatkan tubuh yang ideal tersebut dalam kehidupan sehari-hari atau sesungguhnya.
Referensi :
1. Piliang, Yasraf Amir; Hipersemiotika: Tefsir Cultural Studies Atas Matinya Makna; Jalasutra; Yogyakarta; 2003.
2. Mulyana, Deddy dan Ibrahim, Idi Subandy; Bercinta dengan Televisi : Ilusi, Impresi dan Imaji Sebuah Kotak Ajaib; Remaja Rosdakarya; Bandung; 1997.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home