sosiologi komunikasi kelas B

My Photo
Name:
Location: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jogjakarta, Indonesia

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dosen tamu di program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Universitas Islam Indonesia. Penulis lepas di media massa.

Thursday, June 30, 2005

BAGAIMANA MENGUTIP SUMBER DARI INTERNET DI DAFTAR PUSTAKA

Untuk mengutip sumber di internet
1. Jika kurang dari 5 baris yang dikutip menjadi satu bagaian
2. Kalau 5 baris atau lebih harus 1 spasi, masuk 1 tab
3. Tulis nama penulis dan tahun akses. Misal .........(Junaedi, 2005)
4. Di daftar pustaka ditulis :

Junaedi, Fajar (2005). Judul. Alamat internet, tanggal akses

5. Jika tidak seperti ini dianggap plagiatisme !!

Wednesday, May 18, 2005

KETIKA PERUT LELAKI TERKOTAK-KOTAK

Oleh : Haryono Gatot Subroto (mahasiswa ilmu Komunikasi UMY, NIM 20020530234 / Kelas B, e-mail haryono_subroto@yahoo.com)


Kita tentu cukup akrab dengan iklan televisi ini : beberapa wanita yang sedang berjalan kaki menolehkan kepala dengan ekspresi yang terkagum-kagum. Seakan-akan perempuan-perempuan tersebut terpikat dengan laki-laki gendut berpakaian motif bunga. Namun pada akhirnya kita semua tahu bahwa para wanita tersebut terkagum-kagum bukan kepada laki-laki gendut berpakaian motif bunga tapi tergila-gila dengan seorang laki-laki yang bertelanjang dada di belakang pria gendut. Lelaki bertelanjang dada tersebut nampak bentuk tubuhnya yang kekar, perut berkotak-kotak. Dibagian akhir iklan pembawa acara menyampaikan produk yang mampu membuat badan pria bisa seperti itu.
Atau bisa juga dengan iklan yang satu ini : 3 orang wanita sedang makan bersama. Dua perempuan memilih-milih makanan yang akan disantap yang telah terhidang didepannya. Sedangkan perempuan yang satu lagi begitu lahap memakan menu yang tersedia di atas piring yang membuat 2 temannya terheran-heran. Perempuan yang satu ini mengejek 2 temannya yang sedang mengikuti program diet. Baginya semua bisa dimakan asal secara rutin mengkonsumsi produk minuman tertentu. Di bagian akhir iklan ditayangkan wanita yang mengkonsumsi minuman tersebut begitu lincah berjalan di sela-sela kursi restoran yang sempit sedangkan 2 temannya kerepotan.

Iklan tersebut mengajarkan kepada kita tentang seperti apa atau yang bagaimanakah tubuh yang ideal bagi laki-laki dan perempuan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Seperti kita tahu bahwa realitas dalam iklan adalah realitas rekaan, realitas semu atau yang lebih dikenal dengan second reality. Namun pada banyak orang, kenyataan kedua inilah yang lebih dipercayai. Sehingga berbagai macam usaha dilakukan untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal seperti yang tergambar dalam iklan.

Dewasa ini, makna melalui tanda bahasa telah mampu hadir ditengah-tengah kehidupan manusia dengan tanpa disadari oleh manusia itu sendiri. Tanda yang tadinya merepresentasikan makna, sekarang telah berbalik posisi sebagai sesuatu yang memproduksi realitas. Dalam hal ini tanda tidak lagi merepresentasikan sesuatu.

Hiperrealitas ini diawali dengan matinya petanda dan runtuhnya realitas itu sendiri yang digantikan oleh dunia nostalgia dan fantasi, dimana hiperrealitas merupakan efek, keadaan, pengalaman kebendaan dan atau ruang yang dihasilkan dari proses simulasi. Hiperrealitas adalah duplikat dari realitas yang didekodifikasikan. (Yasraf Amir Piliang, 2003:151)
Ada 2 kategori dalam hiperrealitas :
1. Museum lilin (wax museum) atau tiruan karya seni artinya adalah realitas yang dihasilkan merupakan reproduksi dari realitas-realitas sejarah seperti Beethoven, Marilyn Monroe, JFK dan sebagainya.
2. Kota hantu (ghost town) yang artinya bahwa kota hantu adalah reproduksi fantasi, mimpi, ilusi, science fiction seperti Disney Land, Batman, Superman, Cinderella dan sebagainya. (Yasraf Amir Piliang, 2003:151)

Bentuk tubuh ideal bagi laki-laki dan perempuan seperti yang tergambar dalam iklan merupakan salah satu contoh dari hiperrealitas kota hantu karena bentuk tubuh tersebut hanya merupakan khayalan dan fantasi dari pembuat iklan. Pembuat iklan meyakinkan kepada publik bahwa bentuk tubuh ideal adalah seperti dalam iklan dan menjadi acuan untuk mendapatkan tubuh yang ideal tersebut dalam kehidupan sehari-hari atau sesungguhnya.


Referensi :

1. Piliang, Yasraf Amir; Hipersemiotika: Tefsir Cultural Studies Atas Matinya Makna; Jalasutra; Yogyakarta; 2003.
2. Mulyana, Deddy dan Ibrahim, Idi Subandy; Bercinta dengan Televisi : Ilusi, Impresi dan Imaji Sebuah Kotak Ajaib; Remaja Rosdakarya; Bandung; 1997.

Wednesday, May 04, 2005

HIPERREALITAS TUBUH LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN IDEAL DALAM IKLAN

Oleh Tri Arti, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY. Peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi. NIM 20010530106


A. Pendahuluan
Konsep gender erat kaitannya dengan stereotipe. Stereotipe peran gender merupakan kategori-kategori luas yang mencerminkan kesan-kesan dan kepercayaan masyarakat tentang perempuan dan laki-laki. Dunia dirasa kompleks (beragam), karena setiap hari masyarakat dihadapkan dengan ribuan rangsangan yang berbeda. Banyak stereotipe yang bersifat sedemikian umum, sehingga stereotipe tersebut menjadi ambigu ( kabur). Seperti stereotipe maskulin dan feminin.
Penstereotipe maskulin dan feminin kian mengakar, dimana laki-laki diyakini secara luas sebagai dominan, mandiri, agresif, berorientasi prestasi dan tegar. Sedangkan perempuan diyakini secara luas memiliki sifat pengasuh, senang berkumpul, kurang memiliki harga diri dan lebih memberi pertolongan pada saat-saat mengalami kesulitan. Namun, strereotipe gender tersebut pada akhirnya mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan jaman.
Dalam membahas perbedaan-perbedaan, perlu dipahami antara pengertian maskulin dan feminin. Melalui pendekatan ilmu jiwa, feminin dan maskulin diungkapkan sebagai dua macam kecenderungan dalam jiwa manusia. Wanita pada dasarnya lebih banyak feminin, tetapi juga memeilki unsur maskulin dalam jiwanya. Oleh sebab itu, perempuan bisa beremansipasi seperti sekarang ini, dengan mengembangkan kemaskulinannya. Seperti semangat ilmiah, kreativitas, sikap rasional, kesadaran berorganisai serta semangat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan disektor publik. Sebaliknya, pria lebih banyak maskulin, tetapi juga memiliki unsur feminin dalam jiwanya. Laki-laki bukanlah banci, tetapi arti feminin dalam pengertian tetap memiliki kepekatan, memiliki rasa indah atau secara umum tetap memiliki kehidupan perasaan.

B. Pembahasan
Sifat dasar arti laki-laki bisa dihilangkan pada kondisi di mana perempuan melakukan emansipasi atau membebabaskan dirinya dari laki-laki. Emansipasi perempuan adalah usaha untuk menjauhkan perempuan dari dari laki-laki atau untuk memandirikan perempuan agar tidak ada ketergantungan wanita pada laki-laki.
Pada diri perempuan terdapat stereotipe bahwa bentuk tubuh ideal dalam iklan adalah kurus, langsing, lengkap dengan rambut lurus panjang dan kulit putih dan bersih, maka pada diri seorang laki-laki pun sebenarnya juga terdapat stereotipe bentuk tubuh tertentu yang berlaku. Bahwa seoarang laki-laki sebaiknya harus mempunyai bentuk tubuh yang kuat, berotot dan sehat. Hal ini sesuai dengan tuntutan bahwa setiap laki-laki harus mempunyai sikap mental yang jantan dan macho. Atribut maskulinitas tampak dalam simbol-simbol otot yang menonjol melekat di tubuh. Remaja laki-laki dipaksa untuk menunjukan semuanya itu dalam tubuh laki-laki yang sedang berkembang untuk memenuhi syarat menjadi seorang bintang iklan.
Kode-kode kejantanan laki-laki tidak berhenti pada sifat intrinsik yang melekat pada diri manusia, kode tersebut juga dilekatkan pada asesoris-asesoris, seperti dalam dunia model yang kemudian istilah tersebut diolah menjadi trend yang menstransformasikan gaya maskulin pria untuk dikenakan wanita atau sebaliknya. Terdapat penggabungan keduannya menjadi satu rancanangan busana, menampilkan kesan maskulin sekaligus feminin. Sebenarnyan trend bukanlah hal yang baru. Pada tahun 1964 dikatakan sebagai era kebangkitan gaya maskulin yang diterapkan pada busana wanita, tanpa meninggalkan sentuhan wanita sesuai dengan khas wanita, kemudian menjadi gaya top dunia.
Iklan yang selama ini ditampilkan diberbagai media, majalah khususnya. Pada umumnya lebih banyak menampilkan citra perempuan dibandingkan citra laki-laki, karena produk yang ditawarkan sebagian besar ditujukan untuk kebutuhan wanita, mulai dari kebutuhan paling kecil sampai pada kebutuhan yang paling besar. Selain itu penggunaan model iklan perempuan dipandang lebih memiliki daya tarik yang memikat dibandingkan hanya menggunakan model laki-laki.
Dewasa ini, banyak iklan-iklan yang menawarkan berbagai produk dengan menggunakan model yang tidak jarang mereka menonjolkan segi sensualitas dari bentuk tubuh para model. Biasanya iklan yang menampilkan bentuk tubuh laki-laki maupun perempuan dapat menarik perhatian konsumen. Contoh iklan yang meonjolkan bentuk tubuh laki-laki seperti Iklan rokok Gudang Garam Surya Pro, dimana secara langsung memperlihatkan bentuk tubuh seorang laki-laki yang bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana panjang, lelaki tersebut melakukan suatu gerakan fitness yang menonjolkan kekuatan otot tangannya. Tentu saja hal tersebut dapat menarik perhatian dari konsumen, khususnya wanita. Padahal belum tentu ada hubungannya antara produk yang diiklankan dengan cerita atau model yang yang ditayangkan melalui media tersebut.
Sedangkan contoh iklan yang menonjolkan bentuk tubuh perempuan misalnya, dalam iklan rokok Djarum Black. Dimana, diperlihatkan bentuk lekuk tubuh wanita yang sedang mandi dan handuknya terjatuh. Tetapi dalam iklan tersebut tidak diperlihatkan secara langsung, karena ada simbol “sensor” , saat seoarang pria memandanginya. Sebenarnya masih banyak iklan-iklan yang menampilkan bentuk tubuh laki-laki dan perempuan. Meskipun dalam suatu iklan banyak ditampilkan hal-hal yang membuat pikiran seseorang untuk berimajinasi negativ, semuanya diatur dalam peraturan perundand-undangan periklanan yang berlaku disuatu Negara. Jadi persepsi orang bisa berbeda-beda, tergantung dari pribadi seseorang yang menerima pesan iklan tersebut dan mengartikannya.

C. Kesimpulan
Pencitraaan memiliki arti penting bagi sebuah produk, karena dapat menambah nilai terhadap produk tersebut. Tugas utama iklan senbenarnya untuk menggubah produk menjadi sebuah citra dan apapun pencitraan yang digunakan dalam sebuah iklan, baik itu citra kelas sosial, citra seksualitas dan sebagainya. Yang penting pencitraan itu memilki pengaruh terhadap produk dan akan menambah nilai ekonomisnya.
Sejalan dengan pendapat tokoh teori postmodernis Jaques Lacan bahwa citra baik verbal maupun visual, mempunyai pengaruh besar pada pembentukan rangsangan bagi orang yang melihatnya. Seperti pencitraan maskulin yang ditampilkan dalam iklan diperlihatkan kejantaanann, otot laki-laki, ketangkasann keperkasaan, keberanian menantang bahaya, keuletan serta keteguhan hati yang merupakan salah satu gaya dan daya tarik dari laki-laki dalam penampilannya.
Citra maskulin adalah stereotipe laki-laki dalam realitas nyata. Untuk menggambarkan relaitas tersebut, maka iklan memproduksinya kedalam realitas media, tangapan memandang bahwa yang digambarkan itu sesuatu yang real atau kepalsuan. Pada akhirnya menimbulkan permasalahan-permaslahan pada ketidakadilan sosial yang erat kaitanya dengan perbedaan gender dan ketidakadilan gender.

KEKUATAN FILM HOLLYWOOD MELALUI REPRESENTASI DALAM MEMPENGARUHI MASYARAKAT DUNIA

Oleh ANTONI, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, Peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi, NIM : 20000530043


A. PENDAHULUAN
Produksi film Hollywood merupakan pusat perfilman nomor satu didunia diikuti oleh hongkong dan india yang terkenal dengan bollywoodnya. Film-film Hollywood sangat merajai jagat raya ini baik dari segi produksi, promosi, maupun pemasarannya. Film-film disajikan bukan saja memuat hal-hal yang berbau komedi, romantis, horor, dan kekerasan tetapi tidak menutup kemungkinan menyajikan kekuatan politik maupun ekonomi yang dimiliki oleh USA untuk mempengaruhi masyarakat dunia. Kekuatan pengaruh ini disajikan dalam bentuk kekuatan representasi dalam film-film Hollywood yang mana dengan menyusung ideologi yang kuat Hollywood menunjukan bahwa mereka merupakan negara yang kuat, yang hebat dalam berbagai bidang sehingga dapat dengan mudah mempengaruhi masyarakat dunia dengan ideologinya tersebut.
Hal diatas jelas sekali terlihat oleh banyak film-film produksi Hollywood ini. seperti film Rambo yang sengaja dibikin untuk memperlihatkan kekuasaan dan kehebatan USA diVietnam dan Afghanistan, yang mana untuk di Afghanistan USA merepresentasikan kehebatannya melalui sang Rambo sehingga secara tidak langsung melecehkan Rusia yang kalah dalam peperangan melawan Afghanistan. Film Hot Shots yang diperankan Charlee Sheen menceritakan kehebatan seorang tentara pilihan dalam membebaskan tawanan politik yang disandera oleh sekelompok teroris yang dipimpin seseorang yang direpresentasikan mirip dengan Saddam Husein.
Apa yang dilakukan oleh Hollywood dalam industri filmnya melalui representasi merupakan suatu bentuk penjajahan melalui ideologi untuk mempengaruhi masyarakat dunia terhadap kebijakan-kebijakan politik luar negeri USA. Hal ini sesuai dengan pendekatan Marxisme klasik, yang mana dalam pendekatan ini media dilihat sebagai alat dari kelas yang dominan untuk mempertahankan status quo yang dipegangnya dan sebagai sarana kelas pemilik modal berusaha melipatgandakan modalnya. Media tentu saja dalam hal ini selalu menyebarkan ideologi dari kelas yang berkuasa dalam masyarakat dan maka dari itu menekan kelas-kelas tertentu.
Dalam pendekatan ini media disini dapat disamakan dengan hollywood, melalui film-filmnya selalu merepresentasikan tokoh lawan politiknya dalam bentuk gambaran seseorang yang mempunyai sifat jahat dan bengis atau suatu negara yang menjadi rivalnya selalu direpresentasikan sebagai negara teroris atau negara yang memproduksi senjata nuklir sehingga dapat membahayakan dunia, tetapi semua itu dapat dihancurkan dan dikalahkan oleh USA secara tidak langsung itu sudah menyebarkan suatu ideologi bahea mereka merupakan negara yang selalu benar dimata dunia dan yang terkuat negara diantara negara-negara lainnya.

B PEMBAHASAN
1. Hollywood Sebagai Trendsetter Perfilman
Tidak dapat kita pungkiri lagi kehebatan film-film hollywood yang tidak ada habisnya diproduksi, baik dari segi teknologi, cerita, sutradara maupun yang lainnya, semuanya mampu memperlihatkan suatu tontonan yang menarik yang selalu dinikmati oleh masyarakat bahkan sudah menjadi suatu kebutuhan bagi kalangan-kalangan tertentu.
Dengan kekuatan sebagai trendsetter perfilman duania maka Hollywood dengan leluasanya melakukan suatu hegemoni pada masyarakat.Karena hegemoni yang berlangsung secara ideology ini merupakan suatu senjata yang tepat bagi Hollywood untuk mempengaruhi masyarakat dan untuk merepresentasikan sesuatu melalui filmnya. Sebab ideologi dalam pandangan Gramsci tidak hanya dilandasi oleh sistem ekonomi saja namun tertanam secara dalam semua aktifitas masyarakat, sehingga ideologi berartikulasi dalam kehiduapan yang tidak dipaksakan oleh satu kelompok namun adalah menembus dan diluar kesadaran.
Dalam hegemoni ini sedikit tidaknya mengubah cara pandang masyarakat terahadap sesuatu hal, baik itu peristiwa sejarah maupun hal-hal yang berkembang pada saat sekarang. Misalnya Hollywood dengan film Rambonya ingin merepresentasikan pada dunia bahwa mereka tidak mengalami kekalahan dalam perang vietnam, padahal yang terjadi tidak demikian. Juga yang direpresenatasikan dalam film Rocky dimana menggambarkan laki-laki Amerika yang kuat yang dapat menaklaukan petinju dari manapun teramasuk Uni Soviet yang pada saat itu merupakan rival terkuat USA. Banyak sekali film-film Hoolywood yang merepresentasikan kehebatan negaranya melalui ideologi-ideologi yang mereka masukan dalam perantara media ini, seperti apa yang dikatakan Althusser bahwa cara bekerja ideologi adalah dengan melakukan intervelasi (pemanggilan) dimana idividu yang merasa namanya disebut secara otomatis akan menoleh kearah kekuatan atau negara yang memanggil tadi.

2. Media Merupakan Suatu Jalan Yang Tepat Untuk Menyebarkan Hegemoni Dalam Melakukan Representasi.
Tidak dapat kita sangsikan lagi bahwa kalangan medialah yang membawa film-film Hollywood untuk dapat diputar dan ditonton oleh kalangan masyarakat. Berarti media mempaunyai peran yang sangat besar dalam penyebarluasan hegemoni Hollywood dalam industri film melalui bentuk representasi. Seperti gabungan gagasan dari Gramsci dan Althusser bahwa media massa dan individu-individu yang bekerja didalamnya termasuk dalam lingkup masyarakat sipil dan ISA. Ini disebabkan media massa tidak berfungsi dengan cara-cara penindasan Fisik, melainkan dengan menyebarkan gagasan-gagasan dominan yang diproduksi oleh kelas yang dominan yang sedang menguasai negara.
Jadi terhadap hegemoni film Hollywood ini setiap kalangan yang menganggap suatu bentuk representasi merupakan suatu hal yang melecehakan seseorang atau sosok yang dianggap mempunyai pengaruh atau melecehkan suatu negara tertentu tidak dapat hanya menyalahkan kelas dominan yang memproduksi industri film tersebut, karena kita ketahui sendiri bahwa banyak sekali kalangan yang terlibat terahadap penyebaran hegemoni ini. salah satunya adalah media, baik media massa maupun media elektronik. Termasuk juga kalangan-kalangan peangelola bisnis bioskop dimana mereka lebih sering memutar film Hollywood karena jelas saja lebih menguntungkan dari segi finansial. Dan masyarakat sendiri lebih cenderung menyukai film-film Hollywood tersebut yang tanpa mereka sadari bahwa mereka sudah dijajah secara ideologi.

C. PENUTUP
Film-film Hollywood tersebar luas diseluruh penjuru dunia dan banyak sekali diantara film-film tersebut yang merepresentasikan rival-rival USA. Dam USA sendiri menjadi sosok yang gagah dan kuat dari rivalnya tersebut. Tidak pernah kita tonton atau menyaksikan film Hollywood yang menunjukan bahwa mereka itu kecil dibandingkan kehebatan negara lain. Dengan hegemoni yang kuat Hollywood melancarkan pengaruhnya terhadap masyarakat dunia apalagi dari aspek kepemilikan modal (capital ownership) mereka saangat kuat dan tidak tertandingi.
Penjajah ideologi melalui represenatasi dalam film Hollywood ini sangat mempengaruhi pola pandang masyarakat dunia, bahkan kalau ini terus terjadi tentu saja dapat membelokan sejarah yagng tidak diketehui oleh generasi sekarang maupun yang akan datang. Hollywood dengan didukung kepemilikan modal yang kuat dan jaringan media yang luas dan tersebar diseluruh penjuru dunia otomatis dapat berbuat apa saja untuk menarik perhatian dunia dan dukungan dari segenap masyarakat.

Tuesday, April 19, 2005

LINGKARAN PATRIARKI DALAM INFOTAINMENT

Oleh : ANNISA NOOR FADHILAH (Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, Peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi NIM 20020530079)




Infotaiment yang gemerlap semakin marak di televisi. Hampir semua stasiun televisi memiliki program acara tersebut. Sebuah Program acara yang bersegmen kaum hawa ini, seakan tak pernah kehabisan berita, selalu saja ada yang berita yang disajikan walaupun kadang membuat pemirsanya merasa bosan. Berita-berita tentang public figure tersebut telah menjadi makanan sehari-hari bagi sebagian besar kaum perempuan, yang memang menjadi target audience dari program tersebut.
Apakah tayangan-tayangan infotainment tersebut fungsinya hanya menjadi hiburan? Ya, memang, infotainment memberi hiburan pada pemirsanya namun di balik hal itu sebenarnya infotainment menanamkan nilai-nilai tertentu yang secara tidak sadar telah masuk di benak para audiencenya.
Ada sebuah ideologi yang terkandung di balik tayangan infotainment yang menghibur itu, sebuah ideologi yang tertanam tanpa kekerasan atau menurut Althusser berjalan secara ISA (Ideological State Aparatus) bukan dengan jalan RSA (Repressive State Aparatus) yang menggunakan kekerasan untuk menanamkan ideologi. Dan media massa merupakan bagian dari ISA. Ini berarti infotainment yang ditayangkan oleh televisi menanamkan nilai-nilai tersebut tanpa disadari oleh pemirsanya.
Jika dicermati dan ditelaah dengan seksama maka kita akan bisa membaca nilai apa yang ditanamkan di dalam acara infotainment tersebut. Sebuah nilai yang telah lama dianut oleh masyarakat kita karena warisan budaya timur, sebuah nilai yang tanpa disadari telah tertanam di benak masyarakat kita. Nilai tersebut adalah patriarki.
Sebelum menelaah bagaimana patriarki bisa ada di balik infotainment, saya akan membahas pengertian patriarki itu sendiri. Patriarki kini secara umum, digunakan untuk menyebut “ kekuasaan laki-laki ” khususnya hubungan kekuasaan antara laki-laki terhadap perempuan yang di dalamnya berlangsung dominasi laki-laki atas perempuan yangh direalisasikan melalui bermacam- macam media dan cara (Bhasin,1966). Sedangkan kaum feminis radikal melihat patriarki sebagai suatu kekuatan politik, sosial, dan sejarah yang otonom dan universal.
Di tengah masyarakat yang di dalam benaknya seolah telah terpatri sebuah gagasan yang mengatakan bahwa laki-laki mendominasi perempuan, program-program infotainment tersebut seolah menegaskan akan hal tersebut. Bukan hanya satu-dua program acara seperti itu, tetapi setidaknya ada 125 program tayangan infotainment yang ditayangkan stasiun televisi setiap minggunya (Bernas Jogja, 16 Desember 2004). RCTI dengan Cek dan Riceknya, SCTV dengan Hot Shot dan Was-Wasnya, TRANS TV dengan Kroscek dan Insertnya, INDOSIAR dengan Kiss dan Sensornya, GLOBAL TV dengan Obsesinya dan masih banyak nama-nama yang lainnya, yang seakan tidak pernah lelah menanamkan ideologi patriarki di benak masyarakat.
Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana ideologi patriarki bisa ada di balik acara infotainment? Saya akan mengambil satu contoh infotainment yang ditayangkan di RCTI yaitu Cek dan Ricek. Orang yang bertanggung jawab dan memegang kekuasaan terhadap acara tersebuat adalah bapak H. Ilham Bintang. Sebagai penaggung jawab acara, beliau menggunakan perempuan sebagai pembawa acara dan acara tersebut memang untuk wanita. Dari sini mulai terlihat bahwa perempuan direpresentasikan sebagai biang gosip.
Oleh media, kaum perempuan direpresentasikan dalam bentuk stereotip-stereotip yang didasarkan pada daya tarik seksual maupun domestik. Pembawa acara infotainment yang seorang perempuan dianggap memiliki daya tarik dan daya jual yang lebih apabila membawakan acara infotainment. Laki-laki menjadi produser atau penaggung jawab sedangkan perempuan ‘ hanya ‘ menjadi pembawa acara. Tanggung jawab laki-laki sebagai produser dianggap lebih besar dan lebih berat apabila dibandingkan dengan perempuan yang hanya sebagai pembawa acara yang tanggung jawabnya lebih ringan karena tugasnya hanya membawakan acara yang teksnya telah ditulis dan dipersiapkan sebalumnya. Atau dapat disimpulkan bahwa peranan laki-laki lebih penting dari pada perempuan. Menurut De Beauvoir, laki-laki adalah sang absolut dan perempuan adalah yang lain atau the other (1982).
Seperti telah disebutkan di atas, target audience dari infotainment adalah perempuan. Padahal ada sebagian infotainment yang ditayangkan pada jam-jam kerja antara jam 9 pagi sampai jam 12 siang. Seperti Hot Gossip yang ditayangkan oleh Lativi pada jam 9.30 pagi atau Hot Shot yang ditayangkan oleh SCTV pada jam 11. Dengan menayang-kan acara infotainment pada jam-jam tersebut seolah digambarkan bahwa sebagian besar perempuan berada di rumah pada jam-jam tersebut, yang berarti bahwa para perempuan adalah bekerja di rumah atau di sektor domestik. Dominic Strinati menulis kembali pendapat Van Zoonen dalam bukunya Popular Culture : Pengantar Menuju Teori Budaya Populer (2003;207), media massa berfungsi menegaskan peranan istri, ibu, ibu rumah tangga dan sebagainya, merupakan takdir perempuan dalam sebuah masyarakat patriarki. Dengan klata lain, perempuan adalah yang mengurus rumah tangga, sedangakan laki-laki yang mencari nafkah dengan bekerja di sektor publik. Infotainment semakin menegaskan ideologi patriarki dalam masyarakat.
Walaupun tidak semua perempuan bekerja di sektor domestik, ada juga yang bekerja di sektor publik, masih saja berlaku stereotip bahwa perempuan lebih layak bekerja di sektor domestik. Seandainya pun perempuan bekerja di sektor publik, pekerjaannya dianggap pekerjaan kedua, tidak seperti laki-laki yang selalu menjadi yang pertama. Jika laki-laki menjadi dokter maka perempuan menjadi perawat, laki-laki bekerja di perusahaan, perempuan bekerja di butik(Tuchman).
Kaum feminisme banyak membuat tulisan dan juga kritik terhadap dominasi laki-laki, tetapi masih sangat sulit untuk mendapat tempat yang sejajar dengan kaum pria. Apalagi bila mengingat bahwa budaya timur masih melekat dalam masyarakat kita. Rosemarie Putnam Tong mengatakan “ cara bagi perempuan untuk menghancurakan kekuasaan laki-laki adalah dengan pertama-tama menyadari bahwa perempuan tidak ditakdirkan untuk menjadi pasif, seperti juga laki-laki tidak ditakdirkan untuk menjadi aktif, dan kemudian mengembangkan kombinasi apapun dari sifat-sifat feminis dan maskulin yang paling baik merefleksikan kepribadian unik mereka masiong-masing ”.


Referensi :
 Fajar Junaedi, www.sosiologikomunikasi.blogspot.com
 Fajar Junaedi, www.fajarjun.blogspot.com
 Hidayat, Rachmad (2004), Ilmu Yang Seksis : Feminisme dan perlawanan Terhadap Teori Sosial Maskulin, Yogyakarta : Jendela
 Strinati, Dominic (2003), popular Culture : Pengantar Menuju Teori Budaya Populer, Yogyakarta : Bentang Budaya
 Tong, Rosemarie Putnam, Feminist Thought : Pengantar Paling Komprehensif Kepada Arus Utama Pemikiran Feminis, Yogyakarta : Jalasutra

Hiperrealitas Tubuh Laki-laki dan Perempuan Ideal dalam Iklan

Oleh RATNA ARIFATI JUWITA (Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, NIM : 20020530064, Peserta mata Kuliah Sosiologi Komunikasi)

Hiperrealitas Tubuh Laki-laki dan Perempuan Ideal dalam Iklan
Perkembangan media yang cukup pesat membuat para pemuja seni bersaing dalam penciptaan suatu hasil karya seni yang dirasa berani untuk ditonjolkan, agar hasil karyanya dapat menjadi pusat perhatian oleh khalayak. Para sineas kita membuat film yang bertemakan kisa percintaan para remaja dengan menonjolkan gemerlap gejolak anak muda jaman sekarang dengan dandanan yang cukup berani berlawanan arus dengan kenyataan yang ada misalnya film “ Virgin “ dimana bercerita bahwa nilai tubuh bisa ditukar dengan nilai uang dan film ini meledak di pasaran. Ternyata dengan adanya banyak flim film yang bertemakan remaja dengan melebihkan-lebihkan realita dengan mengabaikan kode etik yang ada masyarakat telah dibutakan oleh media. Belum lagi kini, dalam banyak iklan di media elektronik ditampilkan bahwa seolah-olah lebih menonjolkan sisi kesexyan tubuh dalam iklan. Bukannya menjual produk nya tapi seakan akan mengambil objek kesexyan tubuh laki-laki dan perempuan.
Disitulah hiperrealitas berlaku yang mana makna memproduksi suatu realitas.
Yang mana hiperrealitas melebih-lebihkan objek yang sebenarnya.
Dalam teori John Baudrillard berkeyakinan ” bahwa tanda bahasa telah semakin terpisah dari ovjek yang mereka wakili dan bahwa media telah mendorong proses ini ke titik dimana tidak ada sesuatu yang nyata “. Setelah saya amati dalam kebyakan iklan, pembuat iklan yang menganut paham Baudrilland yang mana melebih-lebihkan realitas yang sebenarnya. Dalam iklan “ Extrim “ ( obat pelangsing dengan objek model terkenal Nadya Hutagalung ) digambarkan perempuan yang mempunyai tubuh ideal seperti : perempuan yang tinggi, putih, sexy, perut langsing, berambut panjang lurus hitam mengkilat, mempunyai payudara yang besar. Hal ini dirasa terlalu melebih-lebihkan realita yang ada.
Dalam iklan produk susu “ L-Men “ , tubuh laki-laki yang ideal digambarkan dengan : tinggi, besar, dengan dada membidang, perut kotak-kotak, dengan rahang pipi yang nyata, bentuk tubuh yang proporsional.
Dalam kedua sampel iklan diatas dimana mendominasi bahwa baik tubuh laki-laki maupun perempuan yang ideal jauh dari realitas yang seolah olah hanya dilebih-lebihkan oleh media.
Baudrilland mengemukakan perkembangan tanda bahasa melalui berbagai tahapan yaitu : 1) Simbolis. Dimana dalam iklan menonjolkan tubuh perempuan yang sexy dan tubuh laki-laki yang atletis. 2) Kepalsuan. Dimana lambang-lambang dianggap kurang berhubungan langsung dengan benda-benda dalam kehidupan, dimana tubuh yang sexy dan atletis dihubungkan dengan produk yang mereka bawakan dalam iklan seperti cara mereka dilambangkan dalam iklan. 3). Dari masa produksi mekanis dan massif mendominasi kehidupan manusia. Dimana objek tidak tergantung dari penggunaan manusia sebagai pembuat lambang. Seperti dalam iklan “ Hemaviton Action “ ( Versi Agnes Monica, Denada, Irwansyah ), iklan tersebut digambarkan sosok perempuan yang sexy, cantik dan tubuh yang sangat proporsional secara tidak sadar telah mendominasi perilaku konsumtif konsumen dan ini membawa kita ke bentuk kehidupan yang dibesar-besarkan namun dengan melihat realita ini merupakan hasil dominasi yang dibuat oleh media.
Menurut teori Tuchman dalam bukunya Dominic Strinati ( 2003 )”Popular Culture” Pengantar Menuju Teori Budaya Populer, menyebutkan bahwa media melihat perempuan dalam iklan didasarkan pada daya tarik sexual. Saya melihat dalam iklan “ Neo Hormoviton “ oleh model Sarah Azhari. Iklan tersebut lebih menonjolkan sisi sexual model yang sexy, mengairahkan, penuh pesona dan sesuai dengan konsep iklannya yaitu stamina penambah daya tahan tubuh agar tidak cepat loyo. Begitu juga dalam iklan “ Extra Joss “ menonjolkan bahwa laki-laki yang kuat, perkasa, besar, dengan otot yang besar sesuai dengan konsep iklan minuman stamina penambah daya tahan tubuh. Dalam iklan tersebut tubuh ideal perempuan dan laki-laki dilihat dari segi daya tarik sexual seperti yang dikemukakan oleh Tuchman dimana media mendominasi kita sehingga persepsi dibesar-besarkan oleh media.
Commodity culture dimana merupakan hasil simulasi bahwa dengan mengkonsumsi dan menginginkan benda-benda nyata yang mempunyai fungsi yang sebenarnya. Simulasi yang mana ketika makna sudah lepas dari apa yang seharusnya ada. Tubuh ideal perempuan dilihat dari aspek material : putih, cantik, tinggi, perut langsing, rambut panjang lurus hitam mengkilat payudara besar. Kalau dilihat dari aspek mental : perempuan mempunyai daya tarik sexual, tubuh ideal perempuan bukan lagi dipahami sebagai fisik yang menarik tapi berkembang sebagai daya tarik sexual. Begitu juga tubuh ideal laki-laki dilihat dari aspek material : tinggi, dada membidang perut kotak-kotak, rahang pipi yang kuat, otot besat, bentuk tubuh proporsional. Dan berkembang ke aspek mental yakni sebagai daya tarik sexual.
Jadi kini konsumsi telah beralih dari nilai guna ( use value ) menjadi nilai tanda (sign value ).
Dapat disimpulkan hiperrealitas ketika makna memproduksi realitas bahwa objek-objek dipisahkan jauh dari realita kehidupan kita, karena sinyal-sinyal itu merupakan hasil simulasi media yang dibentuk oleh lambang-lambang di media.

Referensi :
 Fajar Junaedi S.Sos, M.Si
www..sosiologikomunikasi.blogspot.com
 Strinati.Dominic (2003)” Popular Culture “ Pengantar Menuju Teori Budaya Populer, Yogyakarta : Bentang Budaya

Hegemoni Media Massa Dalam Masyarakat Kapitalisme Lanjut Menurut Perspektif Mazhab Frankfrut

Oleh : Sriiswanto
(Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY,NIM 20000530075)





Sejarah modernisasi masyarakat menurut Jurgen Habermas, dibagi menjadi tiga tahap yaitu masayrakat tradisional, masyarakat kapitalis liberal, dan masyarakat sekarang yang dinamakan masyarakat kapitalis lanjut. Masyarakat tradisional memiliki kerangka kerja institusioanal yang dominan dengan dukungan legitimasi tradisional dalam bentuk mitos, agama dan metafisika yang mencakup seluruh realitas sosial dan kosmis. Dalam masyarakat kapitalisme-liberal yang merupakan awal modernitas, tindakan rasionalitas bertujuan merasuki kerangka kerja institusional. Sehingga terjadi legitimasi tradisional atau sekularisasi, sebab mitos, agama, dan metafisika kehilangan daya ikatnya pada tingkah laku sosial, dan sebagai gantinya muncul ideologi borjuis yang mengumandangkan kebebasan. Pada tahap ini, ekonomi menjadi dominan atas politik, sehingga Marx merumuskanya dalam bentuk basis ekonomi menentukan superstruktur politik. Masyarakat kapitalis lanjut ditandai dengan berakhirnya depolitisasi massa menuju repolitisasi massa, dengan peran negara dalam memecahkan masalah-masalah teknis yang tergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
Media massa sebagai salah satu hasil dari ilmu pengetahuan dan teknologi,mempunyai peran pokok dalam proses perubahan masyarakat. Media massa telah mampu menghegomoni masyarakat, dan mengarahkanya sesuai dengan ideologi media yaitu budaya konsumtif, hedonisme. Masyarakat tanpa sadar diarahkan dan dibentuk selera dan gaya hidup oleh media, tanpa bisa melawan dominasi media.
Gejala media massa lekat dengan masyarakat massa. Artinya, bahwa media massa dilahirkan oleh masyarakat massa yang aksesnya terhadap ilmu dan teknologi cukup baik. Pada masyarakat seperti inilah lahir produk-produk film, televisi, surat kabar, dan radio yang kemudian membentuk budaya massa. Watak budaya massa kata Dennis (1978) bersifat komersil dan popular dengan produk massal, dan berorientasi modal. Seks, kekerasan, horor, dan peperangan merupakan komoditas utama.
Hal ini sesuai dengan pandangan Mazhab Frankfrut terhadap media massa masyarakat kapitalis-lanjut. Mazhab Frankfrut memandang media sebagai superstruktur yang bisa digunakan sebagai alternatif dalam proses sejarah pertumbuhan ekonomi. Komoditas merupakan aparatur ideologis utama dalam proses tersebut. Bahkan, menurut pandangan ini, seni murni, budaya kritik dan perbedaan pendapat pun bisa dipasarkan untuk meraup keuntungan , meskipun harus dengan mematikan potensi kritik.Sementara sarana utama bagi monopoli modal disokong oleh industi budaya massa yang semakin komersial dan universal.Media massa tampil sebagai basis dari industri budaya dan distribusi komoditas budaya. Bagi para penganut teori kritis , semua pesan media massa tidak hanya sekedar sebagai periklanan umum tapi harus diteliti perananya dalam mendukung praktik – praktik sosial ekonomi dan politik. Sermua pesan yang dipropagandakan media secara potensial mempertahankan distribusi kekuasaan dalam masyarakat.
Marcuse dalam One Dimensional Man mengatakan situasi masyarakat industri maju digambarkan sebagai masyarakat berdimensi tunggal. Dengan hilangnya dimensi kedua, negasi atau perlawanan terhadap sistem, masyarakat hanya mengadaptasi dominasi total teknokratisme. Pandangan Marcuse sesuai dengan realitas peradaban masyarakat sekarang. Masyarakat kapitalisme lanjut yang merupakan kelanjutan dari masyarakat kapitalis liberal, begitu dominan pasca runtuhnya negara komunis di Eropa timur pada awal 90-an. Dengan runtuhnya komunisme maka selesai sudah pertentangan ideologi,dengan kemenangan kapitalis-liberal. Meminjam istilah Francis Fukuyama, massa sekarang adalah massa akhir dari sejarah (The End of History ).
Ketika dominasi kapitalis yang mendasarkan diri pada kebebasan individual, demokrasi menjadi dominan di seluruh dunia, maka kebudayaan yang dihasilkan melalui media massa akan berorientasi atau berporos sesuai dengan ideologi barat. Dan tanpa kita sadari, hasil dari dominasi barat ini akan menghasilkan penyeragaman budaya, yang di impelementasikan melalui media massa.
Pada akhirnya awal dari pandangan Mazhab Frankfrut terhadap media massa masyarakat kapitalis-lanjut adalah kritik terhadap modernitas yang mendasarkan diri pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang awalnya sebagai solusi yang akan membebaskan dan memakmurkan manusia dari mitos, pada akhirnya malah menjadi mitos baru yang membelenggu dan menindas kebebasan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hasil dari rasionalitas. Cara berpikir dengan rasio merupakan produk dari abad pencerahan dengan Max Weber sebagai tokohnya. Hal inilah yang menjadi dasar perdebatan Mazhab Frankfrut. Mereka mencurigai bahwa rasionalitas menyembunyikan kepentingan kekuasaan politis yang menindas masyarakat dengan rasionalitas itu sendiri. Mazhab Frankfrut memahami rasionalitas dalam pengertian weber dalam dua peran yang saling bertentangan. Di satu pihak, rasionalitas itu kritik atas produksi tradisional yang menindas dan ketinggalan zaman. Tetapi di lain pihak rasionalitas itu merupakan apologi untuk membenarkan proses produksi yang baru yang dengan cara lain juga menindas dan dengan demikian rasionalisasi juga dipahami menurut pengertian Freud sebagai dalih untuk menyembunyikan kekuasaan yang menindas.
Namun, entah sebagai dialektika pencerahan ataupun masyarakat berdimensi tunggal, kritik mazhab frankfrut berakhir pada jalan buntu. Kalau emansipasi pada giliranya berubah menjadi dominasi baru, kritik tak kurang dari alat dominasi. Dengan kata lain, sebuah kritik rasional menjadi mustahil, sebab dominasi sudah menjadi total.

Friday, April 08, 2005

Sosiologi Komunikasi Kelas B

Paper di atas adalah paper terbaik di kelas "B" mata kuliah Sosiologi Komunikasi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2004/2005