Oleh Tri Arti, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY. Peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi. NIM 20010530106
A. Pendahuluan
Konsep gender erat kaitannya dengan stereotipe. Stereotipe peran gender merupakan kategori-kategori luas yang mencerminkan kesan-kesan dan kepercayaan masyarakat tentang perempuan dan laki-laki. Dunia dirasa kompleks (beragam), karena setiap hari masyarakat dihadapkan dengan ribuan rangsangan yang berbeda. Banyak stereotipe yang bersifat sedemikian umum, sehingga stereotipe tersebut menjadi ambigu ( kabur). Seperti stereotipe maskulin dan feminin.
Penstereotipe maskulin dan feminin kian mengakar, dimana laki-laki diyakini secara luas sebagai dominan, mandiri, agresif, berorientasi prestasi dan tegar. Sedangkan perempuan diyakini secara luas memiliki sifat pengasuh, senang berkumpul, kurang memiliki harga diri dan lebih memberi pertolongan pada saat-saat mengalami kesulitan. Namun, strereotipe gender tersebut pada akhirnya mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan jaman.
Dalam membahas perbedaan-perbedaan, perlu dipahami antara pengertian maskulin dan feminin. Melalui pendekatan ilmu jiwa, feminin dan maskulin diungkapkan sebagai dua macam kecenderungan dalam jiwa manusia. Wanita pada dasarnya lebih banyak feminin, tetapi juga memeilki unsur maskulin dalam jiwanya. Oleh sebab itu, perempuan bisa beremansipasi seperti sekarang ini, dengan mengembangkan kemaskulinannya. Seperti semangat ilmiah, kreativitas, sikap rasional, kesadaran berorganisai serta semangat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan disektor publik. Sebaliknya, pria lebih banyak maskulin, tetapi juga memiliki unsur feminin dalam jiwanya. Laki-laki bukanlah banci, tetapi arti feminin dalam pengertian tetap memiliki kepekatan, memiliki rasa indah atau secara umum tetap memiliki kehidupan perasaan.
B. Pembahasan
Sifat dasar arti laki-laki bisa dihilangkan pada kondisi di mana perempuan melakukan emansipasi atau membebabaskan dirinya dari laki-laki. Emansipasi perempuan adalah usaha untuk menjauhkan perempuan dari dari laki-laki atau untuk memandirikan perempuan agar tidak ada ketergantungan wanita pada laki-laki.
Pada diri perempuan terdapat stereotipe bahwa bentuk tubuh ideal dalam iklan adalah kurus, langsing, lengkap dengan rambut lurus panjang dan kulit putih dan bersih, maka pada diri seorang laki-laki pun sebenarnya juga terdapat stereotipe bentuk tubuh tertentu yang berlaku. Bahwa seoarang laki-laki sebaiknya harus mempunyai bentuk tubuh yang kuat, berotot dan sehat. Hal ini sesuai dengan tuntutan bahwa setiap laki-laki harus mempunyai sikap mental yang jantan dan macho. Atribut maskulinitas tampak dalam simbol-simbol otot yang menonjol melekat di tubuh. Remaja laki-laki dipaksa untuk menunjukan semuanya itu dalam tubuh laki-laki yang sedang berkembang untuk memenuhi syarat menjadi seorang bintang iklan.
Kode-kode kejantanan laki-laki tidak berhenti pada sifat intrinsik yang melekat pada diri manusia, kode tersebut juga dilekatkan pada asesoris-asesoris, seperti dalam dunia model yang kemudian istilah tersebut diolah menjadi trend yang menstransformasikan gaya maskulin pria untuk dikenakan wanita atau sebaliknya. Terdapat penggabungan keduannya menjadi satu rancanangan busana, menampilkan kesan maskulin sekaligus feminin. Sebenarnyan trend bukanlah hal yang baru. Pada tahun 1964 dikatakan sebagai era kebangkitan gaya maskulin yang diterapkan pada busana wanita, tanpa meninggalkan sentuhan wanita sesuai dengan khas wanita, kemudian menjadi gaya top dunia.
Iklan yang selama ini ditampilkan diberbagai media, majalah khususnya. Pada umumnya lebih banyak menampilkan citra perempuan dibandingkan citra laki-laki, karena produk yang ditawarkan sebagian besar ditujukan untuk kebutuhan wanita, mulai dari kebutuhan paling kecil sampai pada kebutuhan yang paling besar. Selain itu penggunaan model iklan perempuan dipandang lebih memiliki daya tarik yang memikat dibandingkan hanya menggunakan model laki-laki.
Dewasa ini, banyak iklan-iklan yang menawarkan berbagai produk dengan menggunakan model yang tidak jarang mereka menonjolkan segi sensualitas dari bentuk tubuh para model. Biasanya iklan yang menampilkan bentuk tubuh laki-laki maupun perempuan dapat menarik perhatian konsumen. Contoh iklan yang meonjolkan bentuk tubuh laki-laki seperti Iklan rokok Gudang Garam Surya Pro, dimana secara langsung memperlihatkan bentuk tubuh seorang laki-laki yang bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana panjang, lelaki tersebut melakukan suatu gerakan fitness yang menonjolkan kekuatan otot tangannya. Tentu saja hal tersebut dapat menarik perhatian dari konsumen, khususnya wanita. Padahal belum tentu ada hubungannya antara produk yang diiklankan dengan cerita atau model yang yang ditayangkan melalui media tersebut.
Sedangkan contoh iklan yang menonjolkan bentuk tubuh perempuan misalnya, dalam iklan rokok Djarum Black. Dimana, diperlihatkan bentuk lekuk tubuh wanita yang sedang mandi dan handuknya terjatuh. Tetapi dalam iklan tersebut tidak diperlihatkan secara langsung, karena ada simbol “sensor” , saat seoarang pria memandanginya. Sebenarnya masih banyak iklan-iklan yang menampilkan bentuk tubuh laki-laki dan perempuan. Meskipun dalam suatu iklan banyak ditampilkan hal-hal yang membuat pikiran seseorang untuk berimajinasi negativ, semuanya diatur dalam peraturan perundand-undangan periklanan yang berlaku disuatu Negara. Jadi persepsi orang bisa berbeda-beda, tergantung dari pribadi seseorang yang menerima pesan iklan tersebut dan mengartikannya.
C. Kesimpulan
Pencitraaan memiliki arti penting bagi sebuah produk, karena dapat menambah nilai terhadap produk tersebut. Tugas utama iklan senbenarnya untuk menggubah produk menjadi sebuah citra dan apapun pencitraan yang digunakan dalam sebuah iklan, baik itu citra kelas sosial, citra seksualitas dan sebagainya. Yang penting pencitraan itu memilki pengaruh terhadap produk dan akan menambah nilai ekonomisnya.
Sejalan dengan pendapat tokoh teori postmodernis Jaques Lacan bahwa citra baik verbal maupun visual, mempunyai pengaruh besar pada pembentukan rangsangan bagi orang yang melihatnya. Seperti pencitraan maskulin yang ditampilkan dalam iklan diperlihatkan kejantaanann, otot laki-laki, ketangkasann keperkasaan, keberanian menantang bahaya, keuletan serta keteguhan hati yang merupakan salah satu gaya dan daya tarik dari laki-laki dalam penampilannya.
Citra maskulin adalah stereotipe laki-laki dalam realitas nyata. Untuk menggambarkan relaitas tersebut, maka iklan memproduksinya kedalam realitas media, tangapan memandang bahwa yang digambarkan itu sesuatu yang real atau kepalsuan. Pada akhirnya menimbulkan permasalahan-permaslahan pada ketidakadilan sosial yang erat kaitanya dengan perbedaan gender dan ketidakadilan gender.